Berhitung

Aku lupa sejak kapan jadi suka berhitung. Seingatku, aku paling benci dengan hitung-hitungan. Aku benci ketika kakakku membahas sejumlah angka rupiah yang harus ia keluarkan untuk mentraktir makan aku yang rakus ini. Aku benci ketika disuruh menarik uang patungan teman-teman karena malas menghitung receh-receh yang terkumpul. Sedari dulu, aku memang paling tidak suka pelajaran Matematika. Dan ketika kuliah, aku bisa sedikit lega karena tidak ada pelajaran hitung-hitungan di jurusanku. Aku terbebas dari angka-angka yang membingungkan. Aku berbahagia karena yang kutemui hanyalah huruf-huruf yang membentuk kata, kalimat, paragraf hingga membentuk kesatuan cerita. Ketika kamu datang, aku juga belum peduli dengan angka-angka. Aku hanya memperdulikan kata, kalimat, paragraf dan cerita yang kita bagi. Apa yang kita bicarakan, bagaimana kamu selalu membuatku nyaman dan mengapa kamu bisa jatuh cinta kepadaku. Yang aku pikirkan hanyalah kata-kata. Kata apa yang akan kugunakan untuk menyapamu. Apa kalimat yang pas untuk menjawab pertanyaan tentang perasaanku padamu. Bagaimana kalau aku salah bicara? Bagaimana kalau dia tersinggung dengan ucapanku? Yang kupikirkan hanyalah kata-kata. 

Aku ingat, suatu hari, ketika kamu pergi tanpa kabar, aku mulai berhitung. Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan. Lalu kamu kembali dan kita bersama. Aku kembali berhitung. Aku ingat-ingat tanggal 25 setiap harinya. Tanggal yang menandakan kita menjalin hubungan bersama. Berhitung, entah untuk apa. Tapi, aku selalu senang ketika tanggal itu datang. Aku selalu senang mengingat banyaknya waktu yang kita habiskan untuk saling mengenal. 'Selamat satu bulan, Mas', 'Selamat 12 bulan, Sayang', dan hingga bulan ke 20 aku masih gemar menghitungnya. Sekarang tanggal 20, berarti 5 hari lagi kita 21 bulan bersama. Tiga bulan lagi kita 2 tahun.  

Aku tidak bisa berhenti berhitung. Aku  berhitung ketika menunggu kamu bangun tidur. Kalau kamu bangun pukul 5 pagi waktu London, ditambah 7, berarti di Jakarta pukul 12 siang. Lalu, kita akan berbincang sebentar mungkin sekitar 3 atau 4 jam sebelum aku dan kamu kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing. Kamu biasanya akan muncul kembali pukul 9 malam waktu Jakarta atau pukul 2 siang di sana. Namun, jika kamu sangat sibuk, kamu akan muncul pukul 11 malam waktu Jakarta. Dan aku, harus bersabar menunggu 2 jam lagi yang rasanya seperti 2 tahun. Tik tok tik tok. Aku pun kembali tidak bisa berhenti berhitung. Dua jam lagi, sejam lagi, setengah jam lagi, 15 menit, 10 menit, 5 menit, 60 detik, 15 detik, 1 detik lagi. Lalu kamu datang. Dan kita akan berbincang selama mungkin. Sampai aku tertidur. Biasanya, kita bisa ngobrol sampai subuh. Pernah 12 jam nonstop, 7 jam, 5 jam, 3 jam, atau hanya sejam jika keduanya sibuk. Bahayanya, selain tidak bisa berhenti menghitung, aku juga jadi main hitung-hitungan. Aku  marah jika waktu ngobrol kita berkurang. 'Ke mana aja sih masa cari waktu ngobrol sejam aja susah!', 'Aku minta satuuuu hari aja dari 7 hari yang ada buat ngobrol banyak. Cuma sehari!'. Kaya ibu-ibu yang marahin anaknya karena kebanyakan main, ya? Lalu, kamu meminta maaf. Kadang membayar utang waktu ngobrol sebelum-sebelumnya. Walaupun kadang aku suka sengaja tidak membalas pesan kamu karena sebal, sejujurnya aku ingin sekali bilang: Bukan salah kamu, Sayang. Aku mengerti bahwa apa yang kamu lakukan sekarang, sampai-sampai membuatmu kelelahan dan kehabisan waktu, semuanya juga untuk aku. 

Aku tidak bisa berhenti menghitung hari. Anehnya, aku tidak merasa lelah. Dan aku tidak membencinya padahal dulu aku benci setengah mati dengan kegiatan hitung menghitung atau Matematika. Anehnya, aku jadi ingin berhitung terus. Menghitung hari kapan kamu pulang. Menghitung waktu kapan kita akan menikah. Empat tahun lagi? Lima tahun? Atau enam tahun lagi? Mungkin setelah itu, kita tidak akan berhenti menghitung juga. Kita pasti akan menghitung jumlah anak-anak kita yang banyak, bukan? Bukankah kamu mau punya anak 11? Kaya anak kucing dong, kaya anak ayam haha. Kaya tim sepakbola, kata kamu. Tapi kebanyakan ah, aku nggak mau, nggak mampu juga kayanya. Lima saja, ya? Oke, kita mau punya anak lima. Nanti bikin tim futsal, ya. Lalu, kita juga akan menghitung umur anak-anak kita yang beranjak dewasa. Setiap anak beda umurnya 2 tahun. Berarti, Si Sulung sama si Bungsu bedanya 10 tahun dong, ya? Nanti pasti dibadungin sama abangnya wkwkwk. 

Lalu, akan ada masanya di mana aku akan berhenti berhitung. Bukan karena kisah kita telah usai, tapi karena kita berdua sudah semakin menua dan lupa dengan waktu serta tahun-tahun yang ada. Karena sudah terlalu banyak bulan-bulan dan tahun yang kita lewati bersama. Yang kita punya bukan lagi angka-angka maupun kata-kata, melainkan berbagai kenangan yang memenuhi otak dan hati kita. Tidak ada ruang untuk menghitung lagi. Bukan lagi tentang: “Kita udah berapa lama ya bareng-bareng?”, yang akan kita tanyakan adalah: “Apa saja ya yang sudah kita lewatkan bersama?”, “Kamu inget ga waktu kita begini? Begitu?” Dan blab la bla……I really wanna grow old with you. Namun, untuk sekarang, aku masih ingin menghitung. Maka itu, cepat kembalilah. Aku menunggu. Because a day without talking to you is not a day for me

Cepat sembuh, Sayang.

Juli Tahun Ini

Bulan Juli, tidak pernah menjadi bulan spesial rasanya dalam hidup saya. Bulan Juli tidak pernah menjadi bulan penuh bahagia. Tidak seperti bulan Mei di mana saya pernah -- di sepanjang bulan itu -- jatuh cinta hingga melakukan hal-hal bodoh. Bulan Juli bukanlah bulan Desember di mana rasanya pusat kebahagiaan saya terletak di situ karena saya pernah mendapatkan kembali apa yang sudah hilang. Bulan Juli bukan bulan Januari di mana orang saya sayangi berulang tahun, bukan bulan Juni di mana Ayah dan Ibu saya bertambah umurnya, juga bukan bulan April di mana saya dilahirkan. Bulan Juli juga bukan bulan kesedihan. Bukan bulan November ketika Ibu saya meninggal, atau bulan Oktober yang penuh kemuraman. Bulan Juli, tidak pernah ada apa-apa. Tidak pernah memberikan arti apa-apa.

Hingga bulan Juli tahun ini.

Sepertinya, momen bulan Ramadhan yang menjadikan bulan Juli tahun ini begitu berwarna. Mencoba hal baru. Kebersamaan. Bulan Juli tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya di mana hari-hari lewat begitu saja. Setiap hari hampir selalu ada cerita. Saking aktifnya di bulan Juli, saya sampe bikin akun Path lagi buat mengabadikan kejadian-kejadian hahahaha (padahal sebelumnya di-deactivate sampe tiga kali!). 

Bulan Juli, bulan tengah-tengah ini, menjadi tidak terlupakan di tahun ini.

July's selfie!

Juli tahun ini, rambut saya udah panjang lagi! Dan kali ini saya juga membiarkan poni saya ikut memanjang. Perdana gapake poni seumur hidup. Dari kecil saya selalu pake model rambut yang berponi. Mulai dari poni samping, poni rata, sampe poni balon yang waktu itu lagi ngetren-ngetrennya. Saya selalu memasang poni karena stigma di keluarga saya yang mengatakan kalo jidat saya jenong, dan ponilah teman setia yang bantu menutupi kejenongan itu. Bahkan, ketika SMA di mana anak-anak seumuran saya pake 3B -- salah satu Bnya adalah Belah Tengah -- saya tetap mempertahankan poni saya. Ngga tau, kayanya saya pubernya telat hahaha. Baru ganjen-ganjen dan memperhatikan penampilan gitu-gitu masa baru sekarang. 

Pas SMA, di mana temen saya udah gaul dengan 3Bnya itu, rambut saya masih berponi rata dan potongan bob ala Dora wkwkwk. Ternyata, gaya rambut berponi (dan rambut Dora) saya ternyata menghalangi Marcel untuk 'melihat' saya wkwkwk alay (tipe cewenya yang berambut panjang cantik-cantik gitu deh). Coba dari dulu rambut saya dan poni saya sepanjang ini, beuh, udah naksir dia pasti hahaha. Kok jadi ngelantur wkwk. Tapi saya manjangin poni bukan karena Marcel lho. Manjangin karena Mesty Ariotedjo hahaha. Saya lagi ngefans banget sama dia dan saya suka rambut panjangnya yang hitam, lurus dan tanpa poni! Trus saya jadi ikutan manjangin haha (rambut doang nyamain, soalnya kalo nyamain muka mah susah. apalagi nyamain tinggi badan).

Lagi-lagi, biar rambutnya bagus kaya Mesty, di bulan Juli ini saya ngecat rambut saya warna hitam. Sebelumnya warnanya udah coklat-coklat alay gitu gara-gara kepanasan ngayap mulu. Pas abis diitemin lagi, lumayan lah jadi ayu-an dikit nggak gembel-gembel amat kaya dulu dengan rambut kecoklatan hampir merah kaya abis main layangan tiap siang bolong. 

Dan.....di bulan Juli, saya menjatuhkan pilihan saya kepada Jokowi untuk memimpin negeri ini. Salam Dua Jari! Awalnya saya nggak tahu milih siapa. Saya nggak seperti teman-teman saya yang sudah bisa menentukan mereka mau pilih nomer satu atau nomer dua. Prosesnya panjang. Saya -- yang biasanya paling males sama urusan politik -- akhirnya tergerak buat cari-cari info tentang kedua calon ini. Saya baca semua berita terkait, baca visi-misi, liat track recordnya sampai baca postingan blog orang-orang tentang Prabowo dan Jokowi. Dan ya, saya #AkhirnyaMilihJokowi. Dan melihat bagaimana proses setelah pemilu berlangsung (you know, ketika melihat Prabowo dan tim-nya bersikap kekanak-kanakan dan gamau terima kekalahan), saya bersyukur sudah memilih nomer dua.

Btw, foto terakhir adalah foto selfie Lebaran hahaha! #teruskenapa



Bulan Juli tahun ini saya seneng banget! Saya dapet THR soalnya hahaha. Dan sebagian dari THR saya pake buat beli buku. Tahun ini saya emang bertekad mengembangkan lagi hobi baca saya yang pada tahun sebelumnya kalah sama hobi travelling saya wkwk. Jadinya saya coba menyisihkan lagi uangnya buat beli buku, jalan-jalannya dikurangin dulu. Yang bikin tambah seneng, saya akhirnya bisa baca buku yang selama ini udah saya cari-cari. Ketiga buku di atas susah banget nyarinya. Ada yang udah abis, belum cetak ulang, dan bahkan memang tidak ada rencana nyetak ulang. Saya pun muter-muter toko buku ngga ada juga yang masih ada stoknya. Akhirnya saya coba cari di toko buku online dan ada! Seneng banget pas paketnya nyampe, sampe dipeluk-peluk buku yang susah dicari ini hahaha (serius dipeluk). Untuk Bumi Manusia, saya menyempatkan diri ke Perpustakaan Nasional, dua hari ngerem aja di sana dari pagi sampe sore buat ngelarin bacanya (karena ngga boleh dipinjem pulang). Sekalian ngabuburit.

Ketiga buku itu ternyata gloomy banget ceritanya. Sama-sama tentang cerita cinta yang menemukan kesulitan dan susah bersama. Bayangin aja, saya masa nangis aja dong baca Bumi Manusia. Masalahnya bacanya kan ngga di rumah......tapi untung sepi sih wkwk. Amba apalagi, saya sampe nangis sesenggukan. Terlalu pedih. Tapi Amba yang paling berkesan ceritanya untuk saya. Suka banget sama Bishma Rashad lah pokoknya. Suka setiap cerita dan kata yang dibuat Laksmi Pamuntjak ini. Udah lama banget baca novel ngga sepuas ini. Sampai sekarang, saya masih terbayang-bayang adegan di novel Amba. Masih kerasa sedihnya kenapa Amba dan Bhisma ngga bisa bersatu. Sampe sekarang saya masih mikirin Amba Kinanti dan Bhisma Rashad. Mudah-mudahan ngga kebawa mimpi, sih.

Ada satu omongan Bhisma yang makjleb banget buat saya. Ditulis dalan salah suratnya yang ditulis di Pulau Buru untuk Amba. Tentang salah satu alasan mengapa mereka tidak bisa bersama. Ini saya kutip dari novelnya:
"Cinta kita sudah begitu besar, begitu luar biasa. Kebanyakan orang belum pernah mengalaminya. Apabila cinta yang begitu besar itu termasuk memiliki objek yang kaucintai itu, itu namanya ketidakadilan. Tidak adil rasanya mencintai dan dicintai seseorang sampai sebegitu rupa."

Begitukah? Trus saya jadi mikir jangan-jangan itu kenapa sebabnya saya sama Marcel susah banget ketemu. Kenapa dia belum bisa pulang-pulang juga. Jangan-jangan cinta kita sudah terlalu besar dan semesta tidak mengizinkan kita bersama karena kesannya tidak adil bagi orang-orang yang belum pernah merasakan cinta. HAHAHA ALAY. NGELANTUR LAGI!

Pinginnya sih bikin review sendiri tentang Amba di http://keepreadingbooks.tumblr.com/. Eh iya, dalam rangka mengembangkan lagi minat baca, saya ajak Marcel bikin writing project lagi. Kali ini bikin blog yang isinya review buku yang telah kita baca gitu hehe. Belum banyak sih, karena bacanya juga kadang tersendat karena berbagai kesibukan. Nulis review pun juga susah banget cari waktunya karena saya ngurusin magang dan tugas akhir :"( Btw, saya juga rapi-rapiin buku saya lagi. Mereka yang sempat terlupakan wkwkwk. Pas disusun ulang, saya baru sadar banyak novel yang dipinjam dan belum dikembalikan hiks. Sebagian juga ada yang ilang karena saya lupa naro di mana huhuhu. Semoga tambah rajin bacanya dan semoga cita-cita bikin perpustakaan kecil tercapai! :)




Bulan Juli tahun ini, saya senang sekali! Saya merasa bersyukur memiliki banyak teman dan keluarga yang saya sayang. Bulan Ramadhan emang identik dengan kumpul-kumpul, buka puasa bersama. Menyambung kembali tali silaturahmi yang putus di bulan-bulan sebelumnya karena sibuk dengan kegiatan masing-masing. Bahagia sekali bisa ketemu temen-temen deket, merangkum cerita sebelas bulan sebelumnya. Tak jarang, ketawa sampai sakit perut dan sampe sakit tenggorokan. Senang sekali punya orang-orang ini :)

Serunya kumpul sama temen SMP sampe kuliah. Teman satu kuliah, satu kegiatan. Teman-teman yang hampir menyerupai sebuah keluarga baru. Keluarga kecil. Serunya buka puasa bersama keluarga besar Gerakan UI Mengajar. Bela-belain ketemu sama Geng PR GUIM 3 meskipun hujan badai. Di situ saya sadar, ngga ada yang namanya "nggak ada waktu" buat ketemu temen. Kalo memang niat ketemu, pasti akan berusaha dan ada aja jalannya. Seneng banget kita semua sama-sama ngebelain buat ketemu. Seru banget makan-makan cantik sama orang-orang cantik wkwkwk. Ngobrol ngalur ngidul. Seru banget juga waktu buka puasa di rumah Vidi. Karena udah pada bosen sama mall, akhirnya mutusin bukber di rumah Vidi aja. Dan makanannya super banyak. Kenyang sampe bego padahal cuma keluar uang dikit. Terima kasih banyak untuk Mama Vidi buat jamuannya wkwk.

Pokoknya, sayang banget sama kalian semuaaaa! Semoga selalu ada waktu buat kumpul!

Hal yang bikin seneng lagi: Arumdafta dan Adera balik dari Korea! Seneng banget akhirnya bisa main sama mereka. Walaupun kadang suka rewel karena maunya sama ammi-nya terus. Tapi gapapa, ante seneng bisa main-main, bisa jalan-jalan bareng sama Mba Dafta dan Ade! Masih ada waktu buat main lagi, dan foto-foto selfie haha. I'm a happy auntie! :D

Bulan Juli tahun ini, ngajarin untuk lebih bersyukur. Bahwa sebenarnya hidup saya cukup menyenangkan. Semoga bulan-bulan berikutnya tetep banyak merasakan hal-hal yang menyenangkan! Semoga lancar-lancar semuanya dan saya tetap bahagia!

Journal Fifteen

Di akhir semester 6, mahasiswa jurnalisme harus bikin satu program berita TV gitu ceritanya. Bukan cuma sekedar bikin program beritanya aja, tapi juga harus menjalankan program layaknya di stasiun Tv beneran. Durasinya 15 menit. Sebelumnya, kami emang udah liputan, jadi berita-berita yang dipake di buletin ini ya memang hasil liputan sendiri. Satu kelompok terdiri dari 14 orang dengan tugasnya masing-masing. Ada yang jadi produser, kameramen, video switcher, audio, time keeper sampe wardrobe. Pokoknya beneran ngejalanin program berita kaya yang sering kalian tonton di Tv, kami harus bener-bener bisa nampilin itu.

Dan, tadaaa, kelompok saya milih "Journal Fifteen" sebagai nama program beritanya. Journal dipilih karena emang kita anak jurnal, dan fifteen karena programnya 15 menit hwhwhw. Saya sendiri disuruh jadi presenter barengan sama Hana. Atulah gatau kenapa dipilih, padahal saya nggak bisa banget yang namanya depan kamera. Ntar juga kerjanya gamau di Tv saking kalo ngomong depan orang banyak tuh belepotan. Tapi yaudah saya akhirnya jadi prsenter, soalnya kalo gajadi presenter juga gatau mau di posisi apa karena semuanya juga susah-susah wkwk.


"Selamat sore pemirsa, Anda telah bergabung bersama kami di Journal Fifteen, edisi Rabu 11 Juni 2014, bersama saya Gita Laras, dan saya Hana Andita" *masih hapal*

Bener aja, pas running program saya sering banget salah ngomong haha. Dari keserimpet sampe salah baca naskah berita! Fatal banget kan yaaaa. Tapi itu pas lagi latihan, untungnya pas di hari ujian lancar, alhamdulillah. Ngerasa gaenak juga kalo salah berkali-kali, soalnya presenter itu kan garda terdepan banget. Kalo presenternya salah, ya programnya pun dinilai nggak bagus. Ini juga kerja kelompok gitu kan, jadi diliat hasil programnya bukan kerja individunya. Alhamdulillah seneng banget pas running di hari ujian kita smoooooth abis. Kesalahan-kesalahan kecil pas di latihan udah nggak ada sehingga waktu kita juga pas banget 15 menit. Padahal sebelumnya kami bisa ngaret lebih dari 30 detik. Ngaret gitu sebenernya gaboleh banget meskipun cuma beberapa detik. Soalnya kalo di tv ada program-program lain gitu kan sesudahnya, jadi diibaratin kalo acara kita ngaret ya bakal ngobrak-ngabrik jadwal program selanjutnya dan efek domino gitu.

Ini pengalaman baru banget sih, sekaligus bekal kalo nanti kerja di Tv. Kurang lebih udah tau hecticnya studio kaya apa kalo mau mulai. Jadi tau bagaimana cara ngoperasiin alat-alat di control room dan jadi tau juga susahnya presenter ngatur ekspresi, nada suara dan kekompakan sama tim. Seru banget, sih. Semester 6 emang semester paling merepotkan sekaligus nambah pengalaman dan nyiapin kita masuk dunia kerja banget.



Bangga banget sama crew Journal Fifteen!