Gita's Travel Stories

Saya punya banyak cita-cita. Salah satunya, bisa terus menulis. Di blog ini, saya menulis apa aja tentang saya. Tidak ada kategori khusus sehingga semuanya menjadi berantakan. Barulah akhir-akhir ini, saya mengelompokkan tulisan saya dengan kategori-kategori tertentu. Hal ini saya lakukan untuk memudahkan saya kalau ingin lihat post lama saya. Saya membagi tulisan saya tentang kehidupan saya, kisah cinta, tentang buku-buku yang saya baca, dan cerita-cerita travelling saya.

Kemarin, saya iseng membaca kembali tulisan-tulisan saya di page 'About Travel'. Saya tertawa membaca ulang tulisan-tulisan saya di situ. Saya benar-benar menulis apa yang saya lihat, saya dengar, saya rasakan di perjalanan. Namun, bahasanya masih kacau sekali. Titik komanya nggak beraturan, banyak typo, banyak menulis kata 'kita' (padahal seharusnya kami), dan pemisahan kata depan dan kata kerja yang berantakan haha. Pokoknya nggak rapi banget.

Akibat kesal sendiri, saya kepikiran untuk membuat blog baru yang khusus merangkum cerita-cerita saya saat travelling. Yang lebih rapi, yang lebih dewasa. Saya sempet berpikir berkali-kali apakah harus membuat blog baru atau tidak. Apakah harus memisahkan cerita travelling saya atau tidak. Dan.........keputusannya akhirnya saya membuat blog baru. Belagu sih, sok-sok travel blog gitu

Hmmm, tapi sebenarnya saya tidak akan menulis rekomendasi tempat atau tips-tips travel gitu sih. Apa yang akan saya tulis di blog baru ini pure pengalaman saya ketika jalan-jalan aja. Sebenarnya, saya membuat blog ini untuk diri saya sendiri. Untuk merangkum kisah-kisah perjalanan saya. Apa yang saya temukan dan dapatkan dari sana. Apa yang saya lihat dan saya rasakan. Menulis memang menjadi salah satu cara saya mengingat hal-hal yang terjadi di hidup saya.

I love writing, i love travelling. Writing about my travel stories is such a perfect thing to do. 

Cerita di Perjalanan


2014//2015

Saya akan memulai post ini dengan bersyukur. 2014 was not that easy, but there were so much good memories. Alhamdulillah.

Aksi di Ciselang 
Dimulai di bulan Januari ketika saya mengikuti kegiatan aksi mengajar GUIM 3 di Indramayu. Setelah rangkaian acara GUIM selama hampir setahun, akhirnya tiba juga aksi mengajar, kegiatan yang paling ditunggu-tunggu. Saya ditempatkan di Titik 1, tepatnya di Desa Ciselang. Saya banyak belajar saat di Ciselang. Saya bertemu banyak orang-orang hebat. Saya bertemu anak-anak lucu. Saya memiliki keluarga baru. Sampai saat ini, pengalaman di bulan Januari itu masih saya ingat. Ah, kangen sama warga Ciselang. Cerita lengkap mengenai aksi di Ciselang ada di sini. Saya juga menulis pengalaman saya di Buku kumpulan cerita pengajar "Sayap Kecil Indramayu"! Beli yaaa hehe.

Silly face with Udin (salah satu murid di Ciselang)!


Sayap Dewantara Indonesia (SADEWA)
Lepas dari GUIM, saya bergabung dengan Sayap Dewantara Indonesia (Sadewa). Sadewa ini merupakan komunitas bagi para alumni GUIM. Kegiatannya kurang lebih sama -- masih fokus pada pendidikan anak-anak di Indonesia. Di Sadewa, saya dan Sefiana Putri menulis beberapa artikel yang terkait dengan pendidikan maupun kegiatan Sadewa. Alasan saya mau bergabung lagi dengan Sadewa karena setelah bergabung di Rumba FISIP dan GUIM 3, saya sadar bahwa passion saya memang ke arah situ. Anak-anak terutama. Maunya sih sampai kapanpun bisa ikut kegiatan sosial kayak gini lagi hehe. Dikasih kesempatan bisa bertemu dan bermain dengan anak-anak merupakan kebahagiaan tersendiri bagi saya di tahun 2014 ini.

Journalight 2014
Saya diberi tanggung jawab besar menjadi PJ Seminar Journalight di bulan April 2014. Bisa dibilang bulan Februari sampai April menjadi bulan terpusing saya. Ngurusin pembicara, TOR, rundown dan segala macam printilan untuk keberlangsungan seminar di tanggal 22 April. Awalnya, saya ditawari menjadi PJ oleh teman sekelas saya. Tema yang diangkat Journalight tahun 2014 kemarin sangat menarik, yakni tentang travelling. Makanya saya bersedia menjadi PJ karena saya suka banget sama dunia travelling dan bercita-cita jadi travel journalist juga. Sebenarnya lumayan asik sih pas ngurusin tema ini, untuk bikin TOR saya jadi banyak cari informasi mengenai Travel Journalism. Banyak ketemu pembicara hebat di dunia travel journalism, seperti Mas Tantyo Bangun (Fotografer Natgeo Indonesia), Mas Bambang Paimo (Pesepeda Keliling Dunia) dan Mas Wisnu Nugroho dari Kompas. Tak ketinggalan juga, seminar saya berhasil mengundang Mbak Trinity Traveler!


Saya udah baca buku beliau dari jaman SMA dan semenjak itu saya termotivasi untuk jadi travel writer juga. Gara-gara ngurusin seminar ini saya berkesempatan buat ngehubungin Mbak Trinity dan email-emailan aja dong hahaha senangnyaaa. Saya juga senang banget karena seminar saya banyakkkk banget yang daftar padahal kuotanya cuma 75 orang. Hape saya nggak berenti bunyi dari orang-orang yang mau RSVP seminar huaaa sampe bingung balesinnya. Yang mau dateng bukan anak UI aja tapi juga dari luar UI bela-belain mau dateng ke seminar ini. Sampai saya pastiin mereka beneran dateng atau nggak saking banyak banget waiting list-nya :") Dan di hari H, banyak juga yang dateng padahal belum reservasi, jadinya banyak peserta yang diri. Responnya juga positif, banyak yang abis itu personal message ke saya katanya acaranya seru banget dan minta dikabarin lagi kalau misalkan ada acara serupa. At that time, I realized travelling memang udah berkembang banget ya di kalangan anak muda.

Keeseokan harinya, saya ikutan workshop menulis cerita perjalanan yang diisi sama Mas Qaris (Tempo) dan Agustinus Wibowo (penulis buku Selimut Debu, Garis Batas dan Titik Nol)! Saya dapet banyak pelajaran soal travel writing. Bagaimana membuat cerita perjalanan yang bisa menyentuh hati pembacanya. Mau banget bisa bikin tulisan yang kaya gitu huhu. Semoga saya bisa menjadi travel writer juga haha (amin)

Trip to Jogja & Banyuwangi
Di tahun 2014, saya tidak banyak pergi jalan-jalan seperti tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan kegiatan akademis saya yang cukup padat. Benar-benar tidak ada waktu untuk leha-leha di tahun ini. Meskipun mata kuliah tinggal dikit, tetap saja hari liburnya digunakan untuk liputan, editing dan sebagainya. Selama libur tiga bulan kemarin pun saya ada magang, jadi nggak bisa kemana-mana. Hmmm tapi saya sempat ke Banyuwangi dan Jogja selama seminggu hehehe. Curi-curi kesempatan sebentar saking saya udah nggak tahan pingin jalan banget :") Saya mengunjungi Kawah Ijen, Taman Nasional Baluran, Prambanan, sama belanja-belanja di Malioboro. Awalnya nggak niat ke Jogja, tapi karena kereta Surabaya-Jakarta nggak ada, jadilah transit dulu di Jogja dan pulang naik bis dari sana wkwk. Selama di Banyuwangi, ditemenin sama Mas Helmi, guide yang superbaik. Sampe ditraktir makan rujak soto dan nginep gratis pula hahaha. Trus ketemu rombongan lain juga dari Bandung sehingga jadi join trip gitudeeh :)

Kedinginan di kereta - kepanasan di Prambanan - kedinginan lagi di kereta - kepanasn di Banyuwangi - kedinginan di Ijen - kepanasan lagi di Baluran, but still a wonderful week!!!

Magang
Pengalaman lain yang tak terlupakan adalah kesempatan magang di Sinar Harapan. Sebenarnya, waktu awal pembagian magang, saya mendapatkan tempat magang di Trans TV. Tapi, passion saya agak kurang di televisi, dan memang saya maunya jadi jurnalis cetak karena saya lebih suka menulis. Saya minta tukeran sama teman sekelas saya dan kebetulan dia mau, jadilah saya resmi jadi anak magang di koran Sinar Harapan dari tanggal 20 Juni sampai 20 Agustus 2014.

Saya ditempatkan di desk Sosial dan Lingkungan. Paraaaah seneng banget. Saya emang nggak terlalu suka kalau nulis berita politik, kriminal atau nasional, makanya bersyukur banget dapetnya di desk sosial lingkungan. Saya meliput hasil konferensi terkait lingkungan seperti perubahan iklim. Bolak balik Gedung BPPT dan REDD++ menjadi makanan saya sehari-hari haha. Ketika teman-teman saya kebanyakan liputan berita nasional dan politik (apalagi pas saya magang lagi jamannya Pemilu presiden) dan nangkring di posko pendukung masing-masing calon, saya malah lagi makan siang gratis di hotel-hotel bintang lima karena lagi liputan seminar dan hasil konferensi  soal lingkungan tadi hehehe. Tapi, jadinya saya nggak pernah ketemu Jokowi gitu, deh. Ketemunya Bapak Menteri Riset sama Menteri Lingkungan Hidup terus :")

Itu tadi soal liputan lingkungan. Hmmm, sebenarnya saya lebih suka pas liputan bagian sosialnya sih daripada lingkungannya. Saya meliput acara One AIDS Day, di mana saya ketemu para ODHA yang punya semangat luar biasa. Bagaimana mereka harus menghadapi stigma buruk dari masyarakat dan dijauhi oleh orang-orang sekitar. Padahal, tidak semua yang terkena AIDS itu karena narkoba dan seks bebas. Salah satu ODHA yang saya temui ternyata hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa, dan tertular AIDS dari suaminya. Selain itu, saya juga meliput diskusi mengenai kekerasan yang masih banyak terjadi di Indonesia juga soal masalah gender.

Saya juga meliput RITECH Expo yang memamerkan hasil karya anak bangsa di bidang riset dan teknologi. Bahkan, saat meliput ini saya disuruh nulis feature sama redaktur saya mengenai salah satu temuan murid SMA. Pas dikasih tugas ini senang sekali! Sebenarnya, saya punya goal sendiri selama magang ini, ngerasa berhasil kalau sampe disuruh nulis feature. Soalnya nulis feature itu kan lebih panjang dan mendalam, mana mungkin dikasih ke anak magang ecek-ecek. Tapi....ternyata saya dipercaya yeaaaay! Setelah saya bikin tulisan feature itu, tidak berapa lama kemudian saya dipanggil sama Editor ahli trus.....disuruh nulis feature lagi huehehe good job, Gita! Tapi sayangnya waktu itu tanggal magang saya udah abis dan saya udah keburu beli tiket liburan jadi nggak bisa saya terima tawaran itu huhu.

Magang seru banget sih. Ngerasain gimana jadi jurnalis beneran. Liputan setiap hari. Ketemu bermacam-macam narasumber dan ketemu banyak kenalan jurnalis. SKSD aja kuncinya hahaha. Karena banyak ngobrol sama mereka, jadi suka kepo bagaimana kerja di media A, B dan C. Bisa jadi rekomendasi tempat kerja saya nantinya hehehe.

Green Lifestyle
Salah satu hal yang berkesan di 2014 kemarin adalah tugas Feature TV yang saya kerjakan bersama Aninta dan Chang. Jadi, kami diwajibkan untuk membuat sebuah program TV yang berisi tiga paket liputan feature. Setelah putar otak, akhirnya kami memilih membuat program Green Lifestyle. Ini semacam program TV yang meliput bagaimana gaya hidup hijau dari orang-orang di sekitar kita. Untuk episode pertama, kami memilih tema "Beberesih Bandung". Kami memilih tema ini karena melihat sekarang Bandung sedang berusaha untuk mengurangi jumlah sampah di kotanya. Kami membuat feature Gerakan Pungut Sampah (GPS), Pak Sariban, dan kerajinan dari sampah yang dibuat oleh Saung Ngulik.

Selama proses peliputan, tentunya kami harus bolak balik Bandung. Naik turun angkot bawa-bawa tripod -- yang kami namai Muhammad Libec, saking berasa bawa anak sendiri karena berat banget. Kami menyusuri Dago sampai Sadang Serang. Kami pergi ke sekolah-sekolah yang mengadakan GPS untuk syuting kegiatannya. Bertemu anak-anak lucu. Dari yang malu-malu diwawancara sampai yang aktif banget ngomongnya. Kami berkenalan dengan para guru, juga orangtua murid untuk mengetahui bagaimana pengaruh GPS di sekolah dan di rumah.

Kami bertemu Pak Sariban, relawan kebersihan Bandung. Meskipun sudah berusia 71 tahun, Pak Sariban tetap semangat memunguti sampah di Bandung tanpa dibayar sepeserpun. Berbekal sepeda dan toa-nya ia berusaha menjadikan Bandung menjadi kota yang lebih bersih -- paling tidak sama seperti pertama kali ia datang ke kota itu. Pak Sariban ini udah sering banget diliput sama media. Jadi, waktu pas pertama ketemu beliau untuk minta liputan, dia langsung oke-oke aja. Trus lucu banget, Pak Sariban kadang yang ngarahin harusnya gimana liputannya hahaha. Dia juga nggak keberatan waktu saya minta take ulang karena waktu itu kameranya eror. Pak Sariban orangnya lucu sekali, ceplas-ceplos, enak diajak ngobrol dan super baik hati. Sumpah sih, baru pernah ketemu orangtua seumuran itu yang masih asyik dan ceplas-ceplos hihi.

Selfie sama Pak Sariban :D
Untuk paket feature ketiga, kami meliput hasil kerajinan Saung Ngulik yang ada di Dago. Karena liputan kami sifatnya partisipative reporting, jadinya kami ikutan bikin kerajinannya deh. Kami membuat kalung dari biji ganitri yang bisa diambil di taman deket bengkel Saung Ngulik. Terbukti banget dari sampah bisa menghasilkan berkah. Tidak perlu modal yang banyak, hanya perlu kreativitas aja. Biji-biji maupun tulang bekas bisa menjadi aksesoris yang bagus dan nggak keliatan sama sekali kalau itu dari sampah. Gara-gara liputan ini pun, kami jadi dateng ke acara paling hits se-Bandung, yaitu Pasar Seni hahaha. Iyaloh orang ke sana mau ngeceng, kami malah bawa-bawa tripod dan kamera untuk ngeliput Saung Ngulik yang buka stand di sana :")

Hampir satu semester kemarin, yang kami bicarakan adalah program ini terus. Benar-benar menyita waktu karena harus dibikin sampai jadi itu program. Jadi ya, udah nginep di Bandung berhari-hari, di kampus ngomongin ini lagi, sampai harus nginep juga di rumah saya dan Aninta untuk ngeditnya. Dari yang ketawa-tawa pas ngerjain program ini, sampe berantem trus sensian juga sering wkwkwk. Bahkan, kami selalu berdebat soal gambar mana yang harus dimasukkin pas ngedit hahaha. Merasa bersalah pas ngerjain ini suka sekali marah-marah. Namun sejujurnya, senang sekali bisa sekelompok sama Aninta dan Chang. Beruntung juga kami tidak pernah menemukan masalah yang berat banget selama proses pembuatan program ini (paling cuma Adobe Premiere yang sering ngadat minta update). Biarpun berantem-berantem pas ngerjain, tapi keambian dan perfeksionis kami ada gunanya juga. Jadi bisa bikin dapat nilai bagus hehe.

Lomba Blog Fisipers UI
Jadi, gara-gara bolak-balik ke Bandung terus, saya jadi bokek banget. Nah, karena nggak punya duit itu, saya memikirkan bagaimana caranya bisa dapet uang. Saya itu orangnya susah banget nabung sama nahan makan, jadinya mengumpulkan uang dengan cara seperti itu ya lupakan saja. Saya berpikir untuk jualan, tapi saya nggak bakat dan nggak suka yang jual-jual gitu. Puter otak lagi, saya berniat untuk menjual "diri" saya. Dalam artian, menjual bakat yang saya punya. Ini pun sempet bingung juga karena bakat yang saya punya bisa dibilang zonk banget hahaha. Tapi ya paling nggak harus di bidang jurnalisme atau tulisan-tulisan gitu.

Di saat yang sama, FISIPERS UI lagi ngadain lomba blog mengenai kesenian Indonesia. Yasudah, saya ikutan deh kali aja menang. Tapi ikutan ini pun sempet mpot-mpotan karena tugas dan TKA yang numpuk. Singkat kata, akhirnya saya berhasil menyelesaikan blog lomba di detik-detik terakhir dan menang jadi juara dua! Hahaha lumayaaaan 500ribuuu. Duitnya langsung saya pake buat beli buku yang udah diincar :)))

Reading Challenge 
Seperti yang saya jelaskan di post tahun lalu, saya jarang banget baca buku tahun kemaren. Nah, tahun 2014 saya ikutan Reading Challenge dan menantang baca 30 buku. Walaupun pada akhirnya saya cuma berhasil nyelesain 27 buku sih hehehe. Tapi saya cukup puas karena taun lalu bener-benr dikit banget bacanya. Udah gitu, buku-buku yang saya baca bagus-bagus semuaaa. Senang!

Best book: Amba! Bisma Rashad FTW!

Lulus!
This is the best part of 2014: saya berhasil lulus 3,5 tahun yeaaaay. Ini memang resolusi saya di tahun 2014 kemarin. Awalnya sempat menyerah karena waktu pembuatan TKA yang sebentar banget. Total bersih saya ngerjain TKA selama 2,5 bulan. Walaupun nangis-nangis, nggak bisa jalan-jalan, duit habis, nggak bisa banyak main, nggak bisa nge-blog, nggak bisa banyak nonton film dan baca buku, tapi akhirnya semua perjuangan terbayar!!! Ada rasa bangga sama diri sendiri karena berhasil nyelesain di mana ada beberapa teman saya yang menyerah.

Pas ngerjain TKA ini juga banyak banget dibantu dan disemangatin temen-temen. Dibantuin bikin websitenya, risetnya, sampe ditemenin liputan. Bahagia banget rasanya punya temen yang baik-baik banget dan saya sangat bersyukur untuk itu. Semoga Allah membahas kebaikan kalian semua. Terima kasih juga buat pembimbing saya yang banyak direpotkan selama ini :")

Gita Laras Widyaningrum, S.Sos :)))
2015
Semoga di tahun 2015 saya bisa kerja di tempat yang saya inginkan. Bisa bertemu orang-orang yang menyenangkan lagi. Bisa belajar banyak hal lagi. Bisa baca buku yang banyak.

Dan semoga selalu bahagia!

Mampir ke Kampoeng Batik


Kampoeng Batik. Dari mendengar namanya, saya sudah tahu jika kampung ini pasti berkaitan erat dengan batik, salah satu kesenian Indonesia. Namun, saya tidak menyangka jika motif batik –yang biasanya saya lihat di kain– ternyata juga memenuhi jalanan hingga dinding-dinding rumah yang ada di kampung ini. Jalanan aspal bermotif batik berupa topeng dan bunga-bunga langsung menyambut saya ketika berkunjung ke Kampoeng Batik Palbatu. Pemandangan tersebut baru pertama kali saya lihat. Biasanya, jalan-jalan yang pernah saya lewati hanya berasal dari aspal hitam, tidak ada coretan apapun. 


Jalanan di Kampoeng Batik Palbatu



Sejak 22 Mei 2011, sebuah daerah di Palbatu ini memang resmi menjadikan lingkungannya sebagai Kampoeng Batik. Saat berkunjung ke sana, saya bertemu dengan Pak Hari, salah satu penggagas Kampoeng Batik. Beliau banyak memberikan informasi kepada saya mengenai Kampoeng Batik ini. Ide awal pembuatan kampung ini muncul karena melihat semakin punahnya kampung batik di Jakarta. “Padahal, dilihat dari sejarahnya, dulu pernah ada kampung batik di Jakarta. Banyak. Ada di beberapa titik. Tapi, lalu kegusur. Kami mencoba membangun kembali biar warga juga ikut berpartisipasi melestarikan batik,” jelas Pak Hari.

Banyak kegiatan yang dilakukan di Kampoeng BatiK Palbatu. Salah satu kegiatan rutinnya adalah belajar membatik bagi warga sekitar. Pak Hari mengatakan, hal ini bertujuan agar warga dapat mengetahui proses membatik yang baik dan benar. “Kegiatan ini rutin dilakukan dan ibu-ibu di sini sudah ada yang bisa memproduksi batik sendiri,” kata Pak Hari.

Tidak tanggung-tanggung, Kampoeng Batik Palbatu juga menciptakan motif batiknya sendiri. Motif topeng dan kembang api merupakan motif unggulan dan khas Kampoeng Batik Palbatu. “Karena tinggal di Jakarta, maka kami berusaha mengangkat budaya Betawinya, yaitu dari tari topeng. Kalau kembang api, karena warga Jakarta atau Betawi setiap mengadakan perayaan pasti menggunakan kembang api,” kata Pak Hari. Hasil batiknya sendiri tidak didistribusikan ke tempat lain, melainkan hanya dijual di Palbatu saja. Menurut Pak Hari, hal ini merupakan keunggulan tersendiri karena bisa memberikan ciri khas bagi Kampoeng Batik Palbatu. “Kalau mau beli ya adanya cuma di sini,” ujarnya.

Kegiatan membatik

Motif Topeng khas Kampoeng Batik Palbatu


Tidak hanya bercerita mengenai Kampoeng Batik, Pak Hari juga menjelaskan banyak hal tentang batik. Saya baru tahu kalau ternyata, setiap motif batik memiliki filosofinya sendiri. Motif Parang misalnya, melambangkan perilaku halus dan bijaksana. Atau motif Kawung yang melambangkan kebijaksanaan dan keseimbangan hidup. “Batik memiliki nilai dan doa. Contohnya, ketika memberikan kain batik kepada orang yang disayang dengan motif Parang, maka kita berharap orang tersebut jadi bijaksana dan kehidupannya seperti raja-raja,” kata Pak Hari. Motif Parang dahulu kala memang biasanya dikenakan oleh keturunan kerajaan atau keraton.

Berdasarkan keterangan Pak Hari, proses membatik juga ternyata tidak hanya sekedar menorehkan lilin panas ke kain saja, tetapi memiliki maknanya tersendiri. Kain putih yang masih bersih dan polos menggambarkan seseorang yang baru lahir ke dunia. Lalu, pemberian motif di kain tersebut, sama dengan perjalanan hidup seorang manusia, bagaimana orang tersebut mengisi hidupnya. Penggunaan lilin panas untuk menggambar motif, layaknya kehidupan manusia yang terus ditempa oleh ujian. Lalu setelah itu, batik akan diberi warna, sama seperti manusia yang pengalaman hidupnya akan mewarnai kehidupannya kelak. Selanjutnya, ketika kain batiknya sudah jadi, maka kain tersebut bisa digunakan sebagai pakaian, selendang ataupun hal berguna lainnya. Hal ini sesuai dengan manusia yang diharapkan bisa bermanfaat bagi sesama manusia lainnya. Pas mendengar cerita Pak Hari, saya sampai merinding sendiri karena ternyata setiap hal yang kita lakukan tidak sesimpel kelihatannya saja, melainkan memiliki banyak pelajaran hidup.

Kegiatan belajar membatik di Kampoeng Batik Palbatu terbuka untuk umum. Setiap hari Senin sampai Jumat, sampai dengan pukul lima sore, Kampoeng Batik Palbatu melayani siapa saja yang ingin belajar membatik. Untuk warga sekitar Palbatu, tidak ada biaya yang dikeluarkan. Namun, untuk warga di luar daerah tersebut harus membayar sebesar 75 ribu rupiah. Pak Hari bilang, uang tersebut nantinya akan digunakan untuk membiayai kegiatan di Kampoeng Batik Palbatu.

Sayang sekali, ketika berkunjung ke sana, tempat belajar membatiknya sudah tutup karena saya datangnya sore hari huhu. Lain kali saya akan datang dari pagi!