Menyusuri Sejarah Rempah Indonesia di Pameran Jalur Rempah

Mempelajari sejarah Indonesia tidak lepas dari kisah penjajahan yang dilakukan bangsa asing terhadap tanah kita. Dan kisah-kisah penjajahan itu bermula karena mereka ingin merebut hasil rempah Indonesia yang melimpah ruah. Para pemimpin bangsa asing itu rela melakukan pelayaran bertahun-tahun menyusuri Jalur Sutera -- jalur yang menghubungkan Barat dan Timur di masa lampau -- untuk mendapatkan rempah-rempah kita. Untuk mengenalkan sejarah rempah, Museum Nasional mengadakan pameran Jalur Rempah: The Untold Story 18-25 Oktober lalu.

Begitu memasuki area museum terdapat instalasi Kapal Mandar, kapal tradisional penduduk Mandar, Sulawesi, yang terbuat dari daun lontar. Masuk ke ruangan utama, saya disambut anak-anak yang sedang bernyanyi di atas panggung. Tak lama setelah itu, tampil pendongeng yang akan menghibur anak-anak yang hadir. Di area belakang museum, terdapat papan besar berisi informasi acara ini dan peta perdagangan rempah-rempah dunia dengan infografis yang menarik.

Yang paling menyenangkan adalah ketika kami sebagai pengunjung diajak untuk menyusuri sejarah Rempah Indonesia. Dimulai dengan menonton video perkenalan, lalu diantar untuk menikmati sejarah rempah dari zaman ke zaman. Dari masa Barus - Kerajaan Hindu Budha - Kerajaan Islam - Perang Merebut Kemerdekaan - hingga masa sekarang.

Saya suka sekali instalasinya! Seperti benar-benar berada pada masa itu. Contohnya ketika memasuki kerajaan Tarumanagara, disediakan replika prasasti Tugu. Begitu pula ketika memasuki masa kejayaan dinasti Syailendra; rasanya seperti mengunjungi Borobudur hahaha. Dan sesuai temanya, di mana pun masanya, disediakan rempah-rempah yang menjadi primadona saat itu. Suka sekali penataan rempah-rempahnya. Dan wanginyaaaaa khas rempah-rempah, bayangkan wangi kayu manis, lengkuas, pala, semua ada!



Paling menyentuh ketika memasuki masa perang kemerdekaan Indonesia. Pada masa ini, kerajaan-kerajaan di Indonesia sudah jatuh dan dipermalukan pemerintah Belanda sehingga rempah-rempah kita pun dikuasai mereka. Tidak ada instalasi soal rempah sama sekali di ruangan ini. Hanya ada kegelapan. Beberapa televisi di sekelilingnya mengambarkan perang saat itu disertai suara teriakan dan tangisan anak-anak. Menyayat hati. Seperti yang kita tahu, pada masa itu kita dijajah Belanda selama 350 tahun dan 3,5 tahun oleh Jepang setelahnya. Bisa dibilang, saat itu benar-benar masa kegelapan bagi perdagangan rempah Indonesia.

Lalu setelahnya, kami dihantarkan pada ruangan berdinding putih yang sangat terang. Ruangan tersebut menandakan kita berada di masa sekarang, pasca kemerdekaan. Indonesia sudah memiliki kekuasaan sendiri atas kekayaan rempahnya. Meskipun begitu, kita harus terus mengawal perdangangan rempah agar tidak ada pihak yang menyalahgunakannya. Semoga anak cucu kita nanti masih bisa menikmati rempah-rempah khas Indonesia ♥


Meskipun tidak bisa hadir di seluruh rangkaian acaranya, tapi saya senang bisa mengunjungi pameran tersebut di hari Sabtunya. Such a cool way to learn history!

Tentang Cerita, Lamunan dan Buku-buku di Perjalanan

Selalu ada cerita di perjalanan. Tentang tempat yang kita kunjungi, pemandangan yang kita lihat atau orang-orang yang kita temui. Alasan itulah yang melatarbelakangi saya merapikan blog ini. Blog baru khusus #ceritadiperjalanan, bukan blog campur aduk seperti yang sebelumnya.



Namun, terkadang, sebelum benar-benar sampai, bukan hanya cerita yang kita temukan di perjalanan. Saat duduk manis di pesawat, menunggu kereta api di stasiun, atau berdiri berhimpitan di Transjakarta, tidak ada yang bisa kita lakukan selain melamun. Terkadang, pikiran yang tidak diundang tiba-tiba hadir. Entah tentang masalah yang sedang kita hadapi, kenangan lama maupun hal-hal yang belum terjadi. Kadang, pemikiran-pemikiran yang tidak diharapkan itu justru menjadi inspirasi bahkan menjadi sarana untuk instropeksi diri. Jauh sebelum sampai tujuan, banyak hal yang kita dapatkan lewat lamunan. Saya sering mengalaminya. Untuk itu, saya menambah kategori baru di blog saya ini: #lamunandiperjalanan. Nantinya, tulisan saya dengan tagar tersebut akan merangkum ramblings and thoughts saya pas lagi di jalan hahaha. Anaknya emang suka daydreaming banget soalnya :")

Lain waktu, jika tidak sedang melamun dan kebetulan lagi mendapat tempat duduk yang enak, saya menghabiskan waktu di perjalanan dengan membaca. Sejenak lari dari kenyataan. Tenggelam dalam kata-kata dan kisah tokoh fiksi dari buku yang saya baca. Menghasilkan pengalaman menyenangkan sendiri di perjalanan. Dan tanpa sadar, saya sudah sampai di tempat yang dituju.  Saya merasa perlu untuk menulis tentang #bukudiperjalanan. Buku-buku yang membuat waktu tidak berjalan lama. Yang membuat saya tidak kesal karena macet.

Semua cerita yang saya temukan, lamunan yang tiba-tiba muncul dan buku-buku yang menemani saya sepanjang perjalanan, siap saya tuliskan di sini.

So, I hope you enjoy it hehe

Beats Apart by Alanda Kariza & Kevin Aditya



Ketika Beats Apart masih berupa writing project Alanda Kariza dan Kevin Aditya di blog, saya sudah menyukainya. Selama sebulan, saya menunggu kelanjutan ceritanya setiap hari. Menunggu pemikiran dan curahan hati M dan F -- tokoh utama cerita ini -- tentang hubungan mereka. Saya suka bagaimana pergolakan hati mereka berdua dituangkan menjadi kata-kata indah. Maka ketika cerita mereka akhirnya dibukukan, tanpa pikir panjang saya langsung membelinya. It's a must.

Tidak ada plot saklek dalam Beats Apart. Ini tidak seperti novel fiksi lain yang isinya kebanyakan narasi dan dialog-dialog tokoh utamanya. Setiap chapter berisi curahan hati M dan F secara bergantian. Memahami cerita melalui sudut pandang mereka berdua.

"Loving you scares me,"

Di dunia nyata, saya akan membenci pria yang berselingkuh. Namun, dengan penuturan M di Beats Apart, saya seolah mengerti bagaimana ia bingung dengan perasaannya. Mencintai perempuan lain, namun sulit meninggalkan kekasihnya saat ini. Saya mengerti kekecewaan F kepada M yang tidak bisa menentukan pilihan. Boy of excuses, she said. Saya menyukai karakter F yang sangat mencintai M, tapi takut menyerahkan perasaannya sepenuhnya. Takut jika cinta M tidak sebesar cintanya. Love is complicated, right?

"Though your ”I love you” was more of a murmur than a solid statement, 
it left me standing on a thread. 
As if, if I were lucky enough, I could get to somewhere pretty. 
If not, I would just be fallen. 
Forgotten. 
Forever. " - F

Sentuhan desain dari Astranya Paramarta, menguatkan cerita Beats Apart. Foto-foto hitam putihnya menambah kesenduan dari kisah M dan F. Tata letak dan pemenggalan kata di setiap halamannya cukup pas, meskipun ada beberapa "kata terpotong" yang membuat saya bingung saat membacanya haha. Pemilihan warna hijau pastelnya suka sekaliiii. Menurut saya, Beats Apart memberikan new reading experience bagi pembaca. Bagaimana kita menghargai kata demi kata yang tertuang di buku ini, sehingga ceritanya lebih meresap.

Overall, Beats Apart sangat cocok untuk orang-orang melankolis seperti saya hahaha. Terlebih lagi, buku ini cocok banget dibaca di perjalanan. Pilih duduk di bangku dekat jendela, dan voila, siap-siap tersedot ke dalam dunia M dan F.

Dan siap-siap juga emosi kalian teraduk-aduk saat membacanya!

Di Perjalanan ke Terminal Guntur, Hampir Mati

Adakah momen di kehidupan kamu di mana kamu rasanya mau mati? Yang bikin kamu mikir, "this is it, kayaknya gue bakal mati sekarang deh,". Pernahkah kamu mengalami hal tersebut? Saya pernah. Dua kali.

Pertama, ketika naik Tornado untuk pertama kalinya. Ketika kepala saya menghadap tanah dan kaki saya mengarah ke langit. Ketika yang bisa saya lakukan hanya berteriak, mau nangis, manggilin nama mama berulang-ulang. Saya tidak bisa mengontrol tubuh saya sendiri. Kalau saja sabuk pengaman saya lepas, saya pasti langsung jatuh dengan wajah tepat membentur aspal. Kalau memang saya harus mati, mungkin itu waktunya.

Tapi ternyata tidak, saya tidak jadi mati. Beberapa detik kemudian, tornado berbalik dan kepala saya berada di atas lagi. Mata saya kembali menatap langit. Meskipun setelah itu saya diputar-putar sampai hampir muntah dan gila, tetapi saya tidak jadi mati. Belum.

Kedua kalinya saya hampir mati ketika dalam perjalanan menuju Terminal Guntur, Garut. Waktu itu, saya, teman-teman dan penumpang lainnya berangkat dari Terminal Kampung Rambutan pukul setengah 12 malam. Begitu naik bus, saya langsung tertidur. Ketika sekitar pukul 2 pagi saya terbangun, masih setengah sadar saya merasakan bus saya agak oleng.

Tapi, lama-lama kok olengnya keterusan? Bus bergerak ke kanan dan ke kiri dengan kecepatan yang tinggi. Saya bisa merasakan bus tersebut sudah keluar jalur yang seharusnya.

Pada saat itu, saya hanya berpikir "Ini mah tinggal nabrak aja nih, ya ampun gini nih gue matinya?" Saking olengnya dan tidak kembali ke jalur-jalur yang benar, sebenarnya bus itu hanya tinggal nunggu nabrak: entah nabrak pembatas jalan lalu jatuh ke jurang atau nabrak mobil dari arah yang berlawanan.

Penumpang bus teriak semua tapi saya hanya diam saking nggak bisa teriak. Doa atau istighfar aja nggak sempet. Pokoknya cuma mikir ini kayanya mau mati nih. Atau kalau nggak mati karena kecelakaan pasti luka-luka parah, nih. Sudah mikir kemungkinan terburuknya.

Tapi, untungnya saya nggak jadi mati lagi. Belum lagi.

Entah, mungkin teriakan penumpang mengembalikan kesadaran pak supir. Setelah sekitar 10 detik penuh keolengan, akhirnya bus kembali ke jalur jalan yang benar. Beberapa penumpang ada yang memarahi pak supir. Tapi hebatnya pas supir tetap jalan, like.....nothing happenned. Berhenti sejenak untuk minum atau ngopi pun nggak :""") Dia santai, kitanya ketar-ketir hahaha. Setelah kejadian itu, akhirnya satu bus sudah nggak bisa tidur lagi. Tanpa sadar, kami "menjaga" pak supir biar nggak ngantuk lagi.

Ketika kami sampai di Terminal Guntur dan melewati pak supir untuk turun bus, tiba-tiba dia berkata: "Maafin Bapak ya Neng, maklum udah tua,". Terharu ya ampun jadi nggak enak sama bapaknya. Saya menjawab: "Iya tidak apa-apa, Pak. Yang penting kita semua akhirnya selamat."


Dan Alhamdulillah, karena saya tidak jadi mati, saya bisa melihat pemandangan ini di atas Gunung Papandayan :) 
(Photo by Jule)