#WhatGitaReads: The Architecture of Love, Tertarik ke Dunia River dan Raia

Semenjak memasuki umur 20, saya jarang sekali membaca buku bergenre cinta-cintaan dan Metropop. Entahlah, semacam tidak tertarik dengan tema seperti itu lagi. Namun, semua itu pengecualian untuk buku-buku karya Ika Natassa. Saya selalu ingin membaca buku-bukunya, meskipun belum tahu benar garis besar ceritanya, dan bahkan belum mengerti bagaimana karakter tokoh utama dalam buku terbarunya. Yang pasti, saya selalu yakin Ika Natassa bisa menghadirkan cerita yang menarik dengan tokoh yang tidak mudah dilupakan.


And, she did well again in her new book, The Architecture of Love. Buku ini awalnya bermula dari proyek #PollStory yang dikerjakan Ika Natassa, bekerja sama dengan Twitter Indonesia. Di proyek tersebut, Ika hanya merancang plot besar ceritanya, sementara kelanjutan ceritanya ditentukan oleh pembaca melalui sebuah polling di Twitter. Kisah tersebut "ditayangkan" setiap Selasa dan Kamis malam di Twitter -- dimulai pada malam tahun baru 2016 dan berakhir di hari Valentine.

The Architecture of Love sendiri bercerita tentang Raia Risjad, seorang penulis,  yang "kabur" ke New York untuk menyepi sejenak dari kenangan pahitnya di Jakarta. Masa lalu yang kurang menyenangkan di Jakarta membuat Raia kesulitan menulis dan sudah dua tahun tidak menghasilkan buku baru. Alasan itu jugalah yang membuatnya melangkahkan kaki ke New York. Raia ingin mencari inspirasi agar dirinya bisa menulis lagi. Di New York, Raia bertemu dengan River Jusuf, arsitek misterius yang ternyata memendam luka akibat kejadian yang dialaminya tiga tahun lalu. Berawal dari pertemuan yang tak sengaja di malam tahun baru dan Central Park, Raia dan River memutuskan untuk keliling New York hampir setiap hari, dimulai dari jam 9 pagi -- River ingin menggambar bangunan-bangunan yang ada di sana, sementara Raia mencari cerita untuk ditulis.

Satu hal yang paling saya suka dari buku ini adalah cara Ika menggambarkan rasa sakit yang dialami Raia dan River. Seolah-olah saya tertarik ke dunia mereka dan ikut merasakan sakitnya. How it feels like to lose someone you love that much. Saya merasakan betapa besar cinta Raia ke Alam dan cinta River untuk Andara. It's all makes sense. Tidak ada alasan untuk bertanya "Kok dia gitu, sih?", "Kenapa River ga gini aja, sih?" -- semua penggambaran tentang luka yang dialami River dan Raia membuat kita memaklumi setiap keputusan yang mereka ambil. Saya menikmati penggambaran kebersamaan Raia dan River, bagaimana mereka menikmati keberadaan satu sama lain. Tidak meledak-ledak, tidak romantis, tidak terlalu cheesy. Membuat nyaman tapi dengan cara yang sederhana. Pelengkap, penyembuh rasa sakit yang dialami.

Saya pernah membaca sebuah review yang membahas salah satu buku Ika Natassa, si pemberi review mengatakan, terkadang Ika menambahkan narasi yang tidak terlalu penting di buku-bukunya seolah ingin "mengajari" pembaca. Tapi menurut saya, itu malah kekuatan dari cerita yang disampaikan Ika. And yes, narasi-narasi tersebut menambah pengetahuan, sih. Kalau di Critical Eleven, saya suka filosofi-filosofi tentang travelling dan Jakarta, di The Architecture of Love, secara tidak langsung, Ika memberitahu bagaimana proses kerja penulis. Dan ia menggambarkannya di tengah kekalutan Raia yang tidak bisa membuat tulisan baru. Plus all the quotes about writing? I love it! 
" Writing is one of the loneliest professions in the world. Ketika sedang menulis, hanya ada sang penulis dengan kertas atau mesin tik atau laptop di depannya, hubungan yang tidak pernah menerima orang ketiga."
Last but not least, salah satu hal penting dari sebuah novel adalah dialog. Dan percakapan Raia dan River? It's the best! Saya bisa senyum-senyum sendiri waktu membacanya. Ikut ketawa waktu River ngelontarin jokes garing, ikut mesem-mesem waktu Raia bercandain River. Natural.
"Bapak Sungai bisa dengar?" 
"Dengar banget! Manggilnya Bapak Sungai lagi,"
Raia tertawa. "Nggak keberatan kan aku juluki Bapak Sungai?"
"I can live with that," River tertawa kecil.
"You can live with that?"
"I can live with that." 
Hehehehe lucu, ya. Gemaaas! So far, The Architecture of Love malah buku Ika Natassa yang paling saya suka. Awalnya menolak baca, takut baper karena nama belakang tokoh utamanya pake nama Jusuf! Why oh whyyyyy. Tapi, setelah baca malah suka banget haha bahkan bisa menyelesaikannya dalam beberapa jam aja, lho! That's what a good book does -- you can't stop reading it hehe.

P.s: I can picture Raline Shah as Raia Risjad here, don't know why. For River Jusuf? Still have no idea.

Di Jakarta, Saatnya Memulai Kembali

Hai, sudah lama ya tidak menulis di blog. Rutinitas menulis setiap hari di kantor membuat lupa menulis untuk diri sendiri. Akhirnya, blog ini jadi terbengkalai. Dan, hati jadi kurang lega.

Kalau ditanya, apa kabar saya, jawabnya mungkin sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Saya tidak tahu apa kalimat yang pas untuk menggambarkannya, tapi mungkin bisa dibilang saya baru saja mengalami "post breakup syndrome". Efeknya sepertinya datang agak terlambat. Hubungan cinta saya sebenarnya sudah berakhir dari setahun yang lalu, tapi memang setelahnya kami tidak benar-benar lepas. Setelah putus, tidak ada perbedaan di antara kita -- hanya status saja yang berganti. Masih bersahabat baik, masih memberi perhatian yang sama.

Ketika akhirnya hubungan semakin merenggang, saya tidak merasakan apa pun. Menangis sudah pasti, tapi saya menganggapnya ini memang memerlukan jeda sejenak. Saya berpikir, kami berdua memang perlu lepas untuk sementara. Saya bahkan sempat dekat dengan laki-laki lain dalam proses itu. Namun, seperti yang sudah-sudah, saya selalu kembali lagi ke dia. Capek sebenarnya, tapi ya hati memang sulit dibohongi.

Keadaan tidak lebih mudah, tapi justru semakin sulit. Hubungan yang sudah rusak, bagaimanapun juga tidak akan bisa diperbaiki lagi. Saya menganggap, mungkin memang ini sudah tanggal kadaluarsanya. Akhirnya, bom waktu itu meledak juga. Saya memutuskan  untuk memberi jeda lagi. Mungkin, yang kemarin belum cukup lama sehingga kami tidak bisa menemukan esensinya #halah. Mungkin, butuh waktu lebih?

Awal-awal tanpa dia, rasanya baik-baik saja. Yah, inilah proses yang harus dijalani. Walaupun diam-diam, sebenarnya saya berharap dia akan kembali seperti yang sudah-sudah. Seperti yang pernah dia bilang: "Tak peduli sejauh apa pun kita menjauh, kita pasti akan selalu bertemu di titik yang sama". Dan, yah memang terbukti sebelumnya.

Namun, suatu hari, seperti ditampar kenyataan, saya sadar, kali ini dia tidak akan kembali lagi. Barulah saya sadar, kali ini saya benar-benar kehilangan dia. Efeknya datang terlambat, ya? Kaya masih nggak percaya ini akhirnya beneran udahan. Selama empat tahun, sudah tak terhitung berapa kali kami mengucap putus, mau pergi, mau udahan. Tapi, selalu balik lagi balik lagi balik lagi. Semua masalah kecil sampai masalah yang paling besar, kami bisa melewatinya. Tapi, tidak kali ini. Makanya, pas sadar semuanya beneran berakhir, saya cukup down.

Sebenarnya, berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk benar-benar pulih dari patah hatinya? Saya tidak tahu.

Ini bukan pertama kalinya saya patah hati. Tapi, ini yang paling parah. Percayalah ini sungguh berat untuk saya. Bahkan, sampai cari-cari artikel di google: "how to survive the breakup", "how to deal with broken heart" hahaha gila, ya? Rasanya sangat sulit lepas dari orang yang selama bertahun-tahun menemani. Sulit lepas dari seseorang yang pernah diyakini memiliki masa depan bersama. Ah, those dreams......Sulit untuk tidak berharap semuanya akan kembali seperti semula.


Tapi, sesayang-sayangnya saya sama dia, saya lebih sayang sama diri saya sendiri. Saya nggak bisa terus-terusan mengharapkan seseorang yang tidak bisa diharapkan lagi. Saya memutuskan untuk menyembuhkan diri saya sendiri. Sebelumnya, setiap rasa sakit yang saya alami, selalu ada dia yang menyembuhkan. Tapi sekarang, dia yang justru menjadi penyebab lukanya haha. Yah, harus mandiri, memang seharusnya tidak boleh terlalu bergantung kepada orang lain. 

Cara "sembuh" orang berbeda-beda, yes? Untuk ngobatin patah hati, saya memilih untuk travelling. Bandung-Pahawang-Garut-Lampung-Purwakarta. Selama sebulan, setiap akhir pekan, saya selalu ke luar kota. Menjernihkan pikiran, sibuk melihat hal dan tempat baru sehingga tidak ada waktu memikirkan masa lalu. And....maybe that's right: travel has the power to heal. Setelahnya, saya merasa cukup baik. Setidaknya, lebih baik dari sebelumnya. 

Di saat yang bersamaan, saya menemukan lagu Monita yang Memulai Kembali. Saya suka musik, lirik dan video klipnya. Breaking up is never easy, right? Tapi bukan berarti jadi alasan untuk terus-terusan sedih. Sakitnya masih ada, tapi saya yakin, semuanya bakal baik-baik saja. Semoga saya baik-baik saja. Pelan-pelan mulai ikhlas dan siap melepas mimpi-mimpi yang tidak bisa tercapai. Siapa tahu, diganti dengan yang lebih-lebih.

Niat baik pasti selalu ada jalannya, kan?

Saya siap memulai kembali.

Di Museum Nasional, Menyusuri Sejarah Rempah Indonesia

Mempelajari sejarah Indonesia tidak lepas dari kisah penjajahan yang dilakukan bangsa asing terhadap tanah kita. Dan kisah-kisah penjajahan itu bermula karena mereka ingin merebut hasil rempah Indonesia yang melimpah ruah. Para pemimpin bangsa asing itu rela melakukan pelayaran bertahun-tahun menyusuri Jalur Sutera -- jalur yang menghubungkan Barat dan Timur di masa lampau -- untuk mendapatkan rempah-rempah kita. Untuk mengenalkan sejarah rempah, Museum Nasional mengadakan pameran Jalur Rempah: The Untold Story 18-25 Oktober lalu.

Begitu memasuki area museum terdapat instalasi Kapal Mandar, kapal tradisional penduduk Mandar, Sulawesi, yang terbuat dari daun lontar. Masuk ke ruangan utama, saya disambut anak-anak yang sedang bernyanyi di atas panggung. Tak lama setelah itu, tampil pendongeng yang akan menghibur anak-anak yang hadir. Di area belakang museum, terdapat papan besar berisi informasi acara ini dan peta perdagangan rempah-rempah dunia dengan infografis yang menarik.

Yang paling menyenangkan adalah ketika kami sebagai pengunjung diajak untuk menyusuri sejarah Rempah Indonesia. Dimulai dengan menonton video perkenalan, lalu diantar untuk menikmati sejarah rempah dari zaman ke zaman. Dari masa Barus - Kerajaan Hindu Budha - Kerajaan Islam - Perang Merebut Kemerdekaan - hingga masa sekarang.

Saya suka sekali instalasinya! Seperti benar-benar berada pada masa itu. Contohnya ketika memasuki kerajaan Tarumanagara, disediakan replika prasasti Tugu. Begitu pula ketika memasuki masa kejayaan dinasti Syailendra; rasanya seperti mengunjungi Borobudur hahaha. Dan sesuai temanya, di mana pun masanya, disediakan rempah-rempah yang menjadi primadona saat itu. Suka sekali penataan rempah-rempahnya. Dan wanginyaaaaa khas rempah-rempah, bayangkan wangi kayu manis, lengkuas, pala, semua ada!



Paling menyentuh ketika memasuki masa perang kemerdekaan Indonesia. Pada masa ini, kerajaan-kerajaan di Indonesia sudah jatuh dan dipermalukan pemerintah Belanda sehingga rempah-rempah kita pun dikuasai mereka. Tidak ada instalasi soal rempah sama sekali di ruangan ini. Hanya ada kegelapan. Beberapa televisi di sekelilingnya mengambarkan perang saat itu disertai suara teriakan dan tangisan anak-anak. Menyayat hati. Seperti yang kita tahu, pada masa itu kita dijajah Belanda selama 350 tahun dan 3,5 tahun oleh Jepang setelahnya. Bisa dibilang, saat itu benar-benar masa kegelapan bagi perdagangan rempah Indonesia.

Lalu setelahnya, kami dihantarkan pada ruangan berdinding putih yang sangat terang. Ruangan tersebut menandakan kita berada di masa sekarang, pasca kemerdekaan. Indonesia sudah memiliki kekuasaan sendiri atas kekayaan rempahnya. Meskipun begitu, kita harus terus mengawal perdangangan rempah agar tidak ada pihak yang menyalahgunakannya. Semoga anak cucu kita nanti masih bisa menikmati rempah-rempah khas Indonesia ♥


Meskipun tidak bisa hadir di seluruh rangkaian acaranya, tapi saya senang bisa mengunjungi pameran tersebut di hari Sabtunya. Such a cool way to learn history!

#WhatGitaReads: Beats Apart by Alanda Kariza & Kevin Aditya



Ketika Beats Apart masih berupa writing project Alanda Kariza dan Kevin Aditya di blog, saya sudah menyukainya. Selama sebulan, saya menunggu kelanjutan ceritanya setiap hari. Menunggu pemikiran dan curahan hati M dan F -- tokoh utama cerita ini -- tentang hubungan mereka. Saya suka bagaimana pergolakan hati mereka berdua dituangkan menjadi kata-kata indah. Maka ketika cerita mereka akhirnya dibukukan, tanpa pikir panjang saya langsung membelinya. It's a must.

Tidak ada plot saklek dalam Beats Apart. Ini tidak seperti novel fiksi lain yang isinya kebanyakan narasi dan dialog-dialog tokoh utamanya. Setiap chapter berisi curahan hati M dan F secara bergantian. Memahami cerita melalui sudut pandang mereka berdua.

"Loving you scares me,"

Di dunia nyata, saya akan membenci pria yang berselingkuh. Namun, dengan penuturan M di Beats Apart, saya seolah mengerti bagaimana ia bingung dengan perasaannya. Mencintai perempuan lain, namun sulit meninggalkan kekasihnya saat ini. Saya mengerti kekecewaan F kepada M yang tidak bisa menentukan pilihan. Boy of excuses, she said. Saya menyukai karakter F yang sangat mencintai M, tapi takut menyerahkan perasaannya sepenuhnya. Takut jika cinta M tidak sebesar cintanya. Love is complicated, right?

"Though your ”I love you” was more of a murmur than a solid statement, 
it left me standing on a thread. 
As if, if I were lucky enough, I could get to somewhere pretty. 
If not, I would just be fallen. 
Forgotten. 
Forever. " - F

Sentuhan desain dari Astranya Paramarta, menguatkan cerita Beats Apart. Foto-foto hitam putihnya menambah kesenduan dari kisah M dan F. Tata letak dan pemenggalan kata di setiap halamannya cukup pas, meskipun ada beberapa "kata terpotong" yang membuat saya bingung saat membacanya haha. Pemilihan warna hijau pastelnya suka sekaliiii. Menurut saya, Beats Apart memberikan new reading experience bagi pembaca. Bagaimana kita menghargai kata demi kata yang tertuang di buku ini, sehingga ceritanya lebih meresap.

Overall, Beats Apart sangat cocok untuk orang-orang melankolis seperti saya hahaha. Terlebih lagi, buku ini cocok banget dibaca di perjalanan. Pilih duduk di bangku dekat jendela, dan voila, siap-siap tersedot ke dalam dunia M dan F.

Dan siap-siap juga emosi kalian teraduk-aduk saat membacanya!